Rabu, 25 Juli 2012

Malas itu PENYAKIT


Kenapa orang bisa terjangkit malas?
Malas itu menunjukkan menurunnya motivasi. Manusia memang memiliki faktor-faktor pendorong dalam dirinya. Ada yang pemicunya materi, ada yang bersifat moral dan ada yang dorongan ruhiyah. Supaya kita tahu apa yang  menyebabkan kita malas, kita harus menemukan motivasi yang mendorong kita melakukan pekerjaan itu. Misalnya apa sih motivasi kuliah, nah kalau sekedar mengisi waktu, maka ketika kita sudah memiliki kesibukan lain yang menyita waktu dan lebih menyenangkan, maka motivasi tersebut akan hilang.tertutupi urusan lain. Atau ketika kita motivasi kuliah untuk bekerja,mencari uang. Nah ketika pas kuliah ternyata ada yang menawari pekerjaan bagus, gaji lumayan, ya sudah untuk apa lagi kuliah. Ada lagi yang kuliah untuk cari gelar, maka dia akan berhenti ketika gelar tercapai. Hilangnya motivasi inilah yang memunculkan rasa malas.
Apakah malas itu bisa menular?
Malas bisa menular, ketika motivasi masing-masing juga tidak kuat. Misalnya dalam satu kost, ada yang malas, sementara tidak ada yang punya motivasi lebih. Akhirnya semua ikutan malas. Bisa malas belajar, malas bekerja dll
Apakah malas itu berbahaya?
Jelas berbahaya, pada saat tidak ada kontrol pemahaman syariat pada diri individu. Sehingga bisa saja sampai pada taraf malas melakukan kebaikan. Atau malas melaksanakan kewajiban. Ini sangat berbahaya. Misalnya malas sholat, malas menuntut ilmu agama, malas mengemban dakwah dll.
Bagaimana Islam memandang sifat malas?
Sifat malas adalah sifat yang merugikan dan tidak akan mengantarkan pada keberhasilan atau kemajuan. Di dalam Islam setiap aktivitas memiliki nilai yang harus dicapai dengan sungguh-sungguh. Dalam ibadah, harus dicapai nilai ruhiyah. Maka ibadah pun harus sungguh-sungguh. Dalam muamalah, misalnya seperti berdagang, ada nilai materi yang harus dicapai dengan sungguh-sungguh. Tetapi dalam pencapaian setiap nilai, harus ada hukum syariat yang mengikatnya. Misalnya dalam berdagang pun, harus terikat dengan hukum-hukum muamalah. Jangan sampai menggunakan cara-cara Kapitalis.
Apa juga orang yang menyadari, dia tidak boleh malas, tetapi susah juga mengubahnya?
Di sinilah ia harus mengubah pemikirannya. Agar terikat kepada hukum-hukum syariat. Misalnya ketika kita merasa malas kuliah. Padahal orang tua kita sudah berusaha bersungguh-sungguh membiayai kita. Kita memiliki amanah untuk menunaikan harapan orang tua, yaitu lulus kuliah. Maka kita wajib bersungguh-sungguh melaksanakannya.
Terkadang kita sudah berusaha rajin, tapi lingkungan membuat kita malas.Bagaimana cara mengatasinya?
Hal yang harus dilakukan adalah meninggalkan lingkungan yang membuat kita malas dan berkumpul dengan teman-teman yang baik dan rajin. Kita juga harus belajar ilmu agama, hukum-hukum syariat, sehingga semakin memotivasi untuk bekerja keras. Yang terakhir berdoa, semoga Allah Swt memberikan kekuatan kepada kita untuk bersungguh-sungguh memberikan yang terbaik

Selasa, 17 April 2012

Nilai Sebuah KOMITMEN

Saat kita bicara komitmen, maka hal pertama menjadi dasarnya adalah janji. Janji terhadap apa yang telah kita ucapkan sekaligus janji kepada diri sendiri. Komitmen terkadang jauh lebih rumit dari hanya sekedar cinta. Kamu bisa saja sangat mencintai seseorang, memberikan perhatian yang lebih terhadap orang yang kamu cintai, tapi apakah kamu mampu untuk menyatakan komitmen kepadanya? Dan jika kamu mampu, apakah si dia mau berkomitmen dengan kamu? Rumit, tapi itulah nilai dari dari sebuah cinta.

Dalam perkembangan zaman saat ini, komitmen sepertinya telah menjadi bahan lelucon semata. Jangankan untuk bisa menjadikan pasangan kamu sebagai istri atau suami bagi kamu, mengungkapkan status saat kamu bersamapun terkadang tidak bisa. Wajar jika ada istilah saat ini yang lebih kita kenal dengan HTS [Hubungan tanpa status]. Hal ini sangat fatal jika diteruskan, apalagi jika sangat mencintainya. Tidak terbayangkan jika suatu saat nanti kamu akan tersakiti karena suatu penghianatan. Tapi itulah buah ketidak-beranian kamu untuk berkomitmen dengannya.


Keberanian seseorang untuk menyatakan komitmen, menunjukkan bahwa ada kemampuan dari orang tersebut untuk mengemban suatu tanggung jawab terhadap apa yang diucapkannya. Saat kamu mengucapkan, "I fall in love with you, would you be mine?" berarti kamu sadar dan telah siap dengan segala konsekuensi cinta, merasakan "sedih dan bahagia" bersamanya sebagai satu paket. Sedih karena cintamu ditolak dan merasakan kebahagiaan yang amat sangat ketika cintamu diterima.


Ketika kamu
mencintai seseorang, memberikan komitmen kamu sepenuhnya kepada sidia merupakan hadiah terbaik yang dapat kamu berikan. Komitmen adalah sesuatu yang tidak boleh diterima dengan sembaranagn karena ia memiliki kepuasan serta kuasa yang menakjubkan atas perasaan kamu.

Sebuah komitmen cinta terkadang memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dari sumpah pernikahan. Bisakah terjadi demikian? Saat kamu menyatakan cinta kepada seseorang, yang terbayangkan dikepala hanya keinginan untuk selalu bersamanya. Sedetikpun tanpa bayangannya akan membuat dirimu gundah. Sangat berbeda saat orang ingin menikah yang terkadang terselipi oleh ego yang tak beralasan. Mungkin karena sudah cukup umur untuk menikah, calon pasangan yang bisa mengangkat martabat, membayangkan indahnya pesta pernikahan dan sebagainya. Jika itu yang ada dalam benakmu saat ingin menikah, maka nilainya jauh lebih rendah dari sebuah komitmen cinta sat kamu "nembak" sidia pertama kali.


Akhir dari tulisan ini, mungkin kamu bisa berkata, "Kita jalani saja hubungan ini, biarkan ia mengalir bagai air". Jika memang demikian berarti kamu sudah siap dan tetap menjalin hubungan yang baik dengannya jika suatu saat nanti aliran air ini mencapai laut. Yupz...dilaut air emang gak ngalir, asin dan selalu bikin ombak. Dan Kamu gak boleh protes, karena memang itu yang kamu inginkan..


Dicomot dari Professorshouse.com